
Awal Agustus 2009 ini dunia per-SSA-an dibuat hangat dengan dipublikasikannya laporan dari gugus tugas (Task Force) American Psychological Association (APA) tentang “Appropriate Therapeutic Responses to Sexual Orientation” dalam sebuah konvensi di Toronto. Apa yang disampaikan dalam laporan setebal 130 halaman itu (saya belum selesai bacanya –busyet dah panjangnya, mending baca buku agama menjelang Ramadan kali ya, hehe—tapi sekilas bisa nangkap isinya) bukanlah hal baru bagi APA. Lebih tepat mungkin bisa disebut sebagai peneguhan.
Gugus tugas yang dibentuk pada Februari 2007 tersebut “menemukan fakta” (saya berikan tanda kutip sebagai peringatan supaya kita tidak menerimanya dengan mentah) sbb:
* Ketertarikan, perilaku dan orientasi seks sesama jenis adalah normal dan merupakan varian positif dari seksualitas manusia—dengan kata lain hal-hal tersebut tidak mengindikasikan kelainan mental atau kelainan perkembangan mental.
* Homoseksualitas dan biseksualitas terkena stigma, dan stigma inilah yang bisa menyebabkan konsekuensi negatif (stress sebagai minoritas) sepanjang hidupnya.
* Ketertarikan dan perilaku seks sesama jenis muncul dalam konteks sebagai variasi dari orientasi seksual dan identitas orientasi seksual dan bagi sebagian orang identitas orientasi seksual ini cair (fluid), artinya ujungnya tidak bisa dipastikan.
* Para gay, lesbian dan biseksual membentuk hubungan dan keluarga yang stabil dan berkomitmen sebagaimana layaknya hubungan heteroseksual. .
* Sebagian orang memilih menjalani hidup sesuai dengan keyakinan agamanya.
Berdasarkan “fakta” (?!) itu mereka mencoba menjawab tiga pertanyaan yaitu:
1. Apakah upaya-upaya merubah orientasi seksual (diistilahkan sebagai sexual orientation change efforts atau SOCE) efektif dalam merubah orientasi seksual?
2. Apakah SOCE berbahaya?
3. Apakah ada manfaat tambahan lain dari pelaksanaan SOCE?
Dalam laporan itu disimpulkan bahwa, berbeda dengan klaim para praktisi terapi, upaya-upaya merubah orientasi seksual (SOCE) kecil kemungkinan akan berhasil (unlikely to be successful) dan justru berisiko menyakiti (involve some risk of harm) orang yang diberi terapi.
Kesimpulan yang kemudian dipublikasikan secara luas ini (kantor-kantor berita utama dan media massa penting seperti CNN ikut merilisnya) tentu saja semakin mempertajam perseteruan antara APA dengan organisasi yang justru selama ini aktif memberikan bimbingan dan terapi kepada orang-orang yang merasa punya unwanted SSA untuk menjalani kehidupan bukan sebagai gay. Organisasi tersebut yang paling dominan adalah National Association for Research and Therapy of Homosexuality (NARTH). Dalam press release-nya yang dikeluarkan segera setelah publikasi laporan APA tersebut, NARTH menyebut bahwa laporan tersebut menunjukkan bias yang tajam yaitu bahwa anggota gugus tugas tersebut tidak memperlihatkan keragaman ideologi.
Mengapa NARTH menuding demikian? Tak lain karena –ini fakta sangat penting—tak ada anggota APA yang biasa melaksanakan terapi reorientasi (atau terapi reparatif, yakni dari terapi mengubah dari gay ke straight) diperkenankan bergabung di gugus tugas.. Sebaliknya, orang-orang yang dipilih untuk menjadi anggota gugus tugas tersebut adalah para ‘aktivis’.Kesimpulannya, karena anggota gugus tugas tersebut tidak netral, maka sudah bisa diduga hasil penelitiannya juga tidak akan netral, meskipun mereka menyebutnya “ilmiah”.
Laporan tersebut di atas tentu saja disambut gegap gempita oleh para aktivis pro-gay.. Ini seolah menjadi milestone bagi mereka setelah tahun 1973 American Psychiatric Association, melalui lobinya, berhasil mengeluarkan homoseksualitas dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Mereka merasa semakin punya lebih banyak amunisi untuk menjalankan agenda-agenda mereka atas nama human rights (HAM) dan kebebasan berekspresi.
Apa makna semua ini bagi kita?
Sesungguhnya, kita bisa melihat bagaimana “para ahli” itu tidak se-ilmiah yang mereka klaim. Bagaimana mereka mengagungkan metoda dan sistem mereka dalam menjalankan tugasnya dengan mengabaikan faktor yang paling hakiki dalam hidup: keimanan. Bagi kita, sebenarnya, apapun hasil dari perdebatan itu kita sudah tahu bagaimana menghadapi dan memperlakukan SSA yang kita punyai: ini adalah sebuah ujian dari Allah Yang Mahaadil, dan kita ikhlas menerima cobaan ini.
Tinggal masalahnya sekarang: langkah-langkah apa saja yang harus kita tempuh agar bisa menjalani ujian tersebut hingga bisa mencapai rido-Nya?
Mari kita sama-sama belajar.